RCCA Anida Salwani Binti Abdul Hadi & Mohd Azis Ngah
Leaders: RCCA Anida Salwani Abdul Hadi & Mohd Azis Ngah
Background: Mantan Editor Majalah / Mantan Asisten Editor Berita
Key Story Sections
Dari Mengabarkan Berita hingga Mendobrak Batasan
Selama hampir dua dekade, Anida Salwani dan Mohd Azis Ngah dikenal sebagai pasangan dengan kehidupan yang stabil. Keduanya merupakan jurnalis berpengalaman di Kuala Lumpur, Anida sebagai Editor di salah satu majalah gaya hidup ternama, dan Asisten Redaktur Berita di sebuah surat kabar arus utama besar. Mereka telah membangun apa yang sering disebut sebagai "Rencana A" yang sempurna.
Mereka memiliki jabatan bergengsi, fasilitas dari perusahaan terkait pemerintah, serta kehidupan nyaman bagi empat anak mereka. Namun, di balik nama besar dan tenggat waktu yang padat, ada satu hal yang perlahan mereka kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: waktu.
"Kami terlihat sukses di atas kertas, tapi kenyataannya sangat melelahkan," ungkap Anida. "Kami menukar hidup kami dengan gaji, dan tanpa sadar melewatkan masa-masa berharga saat anak-anak kami tumbuh."
Krisis yang Mengubah Segalanya
Titik balik itu datang bersamaan dengan pandemi global. Pada Maret 2020, Azis mengambil program Voluntary Separation Scheme (VSS) dan memulai usaha di bidang penyelenggaraan acara olahraga. Namun, kebijakan Movement Control Order (MCO) membuat industri tersebut lumpuh dalam semalam. Beberapa minggu kemudian, di tengah bulan Ramadan, perusahaan penerbitan tempat Anida bekerja resmi ditutup dengan pemberitahuan hanya 7 jam sebelumnya.
Seketika, "Rencana A" pun runtuh.
"Kami benar-benar tidak memiliki penghasilan sama sekali," kenang Azis. "Selama satu tahun, kami mencoba berbagai cara—berjualan daging dendeng, keropok lekor, hingga produk kecantikan yang membutuhkan stok besar. Namun hasilnya tidak seberapa, sementara tabungan kami terus menipis."
Definisi Baru tentang "Berita yang Layak Diangkat"
Di masa penuh keputusasaan inilah BE International hadir.
Awalnya, Anida bersikap skeptis dan menganggap seri AULORA sebagai produk yang hanya ditujukan untuk "orang sakit". Namun, model bisnisnya yang unik justru menarik perhatiannya tanpa kewajiban menyimpan stok, tanpa modal besar, dan dengan sistem yang adil.
"Saya jatuh cinta dengan konsep Lubuk Pahala—sebuah cara membantu orang lain sembuh sambil membagikan kebaikan," tutur Anida.
Memulai langkahnya di tengah masa lockdown, penghasilan Anida pada bulan pertamanya sebagai Ambassador hampir menyamai gajinya saat menjabat sebagai Editor—posisi yang ia capai setelah 19 tahun berkarier. Melihat hasil nyata tersebut, Azis, mantan jurnalis kriminal yang telah melakukan riset dan penelusuran mendalam tentang perusahaan ini, akhirnya bergabung dan mendukung penuh, 200%.
Mempercayai Sistem BE
Perjalanan mereka menuju RCCA yang begitu pesat didorong oleh kesiapan untuk "Mengosongkan Cangkir"—membuka diri sepenuhnya untuk belajar. Meski telah lama berkecimpung di dunia media, mereka dengan rendah hati belajar dari para mentor yang usianya lebih muda, namun lebih berpengalaman dalam bisnis BE.
"Di dunia korporat, teman banyak saat kita tertawa, tapi sangat sedikit saat kita jatuh. Di BE, kami menemukan keluarga yang siap menopang dan mengangkat kita kembali saat terjatuh," ujar Anida.
Mereka pun menjalani budaya "Zero-rising" dengan sepenuh hati, menanggalkan ego dan pencapaian masa lalu, lalu mengikuti Sistem BE secara total.
Hidup yang Berubah
Kini, pasangan ini tidak hanya berhasil kembali meraih keamanan finansial, yang memungkinkan mereka menyekolahkan anak-anak di sekolah swasta hingga universitas dengan fasilitas terbaik, tetapi juga menemukan kembali kebahagiaan sebagai suami istri. Mereka seolah "menebus" waktu berharga yang dulu hilang selama bertahun-tahun menjalani kehidupan korporat.
"Kebahagiaan terbesar kami saat ini adalah melihat anggota tim kami berhasil, mampu membeli mobil yang lebih nyaman, memulihkan kesehatan, dan meneteskan air mata haru saat pertama kali merasakan pengalaman mewah dalam perjalanan bersama BE," ujar Azis dengan penuh kehangatan.
Menyaring dan Menepis
Dalam refleksi atas perjalanan hidupnya, Anida tetap berpegang pada prinsip "Filter and Deflect"—menyaring hal-hal negatif dan menepis berbagai alasan yang hanya menghambat langkah. Sementara itu, Azis menjalani hidup dengan filosofi padi: "Jadilah seperti padi, semakin berisi, semakin merunduk."